Informasi Pendidikan Anak Tuna Rungu

A. PENGERTIAN

Anak Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya, sehingga mengalami gangguan berkomunikasi secara verbal. Secara fisik, anak tunarungu tidak berbeda dengan anak-anak dengan pada umumnya, sebab orang akan mengetahui bahwa anak menyandang ketunarunguan pada saat berbicara, mereka berbicara tanpa suara atau dengan suara yang kurang atau tidak jelas artikulasinya, atau bahkan tidak berbicara sama sekali, mereka berisyarat.

B. KLASIFIKASI TUNA RUNGU

Berdasarkan tingkat kerusakan /kehilangan kemampuan mendengar

  • Sangat ringan. 27—40 dB
  • Ringan, 41 -44 dB
  • Sedang, 56—70 dB
  • Berat, 71—90 dB
  • Ekstrim, 91 dB keatas tuli

C. TUJUAN

Tujuan penyelenggaraan layanan pendidikan bagi anak Tunarungu atau Sekolah Luar Biasa Bagian B adalah agar dapat mewujudkan penyelenggaraan pendidikan bagi anak penyandang cacat rungu seoptimal mungkin dan dapat melayani pendidikan bagi anak didik dengan segala kekurangan ataupun kelainan yang diderita sehingga anakanak tersebut dapat menerima keadaan dirinya dan menyadari bahwa ketunaannya tidak menjadi hambatan untuk belajar dan bekerja, memiliki sifat dasar sebagai warga Negara yang baik, sehatjasmani dan rohani, memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk melanjutkan pelajaran, bekerja di masyarakat serta dapat menolong diri sendiri dan mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup.

Layanan Pendidikan Bagi Anak Tunarungu :

  • TK Khusus/TKLB
  • SK Khusus/SDLB
  • SMPKhusus/SMPLB
  • SMAKhususlSMALB
  • Sekolah Inklusif

D. SARANA PRASARANA

1. Sarana Fisik Sekolah

Bangunan-bangunan yang diperlukan di sekolah bagian B (tunarungu)

a. Ruang belajar

  • Ruang teori
  • Ruang bina wicara (artikulasi)
  • Ruang laboratorium
  • Ruang keterampilan putri
  • Ruang keterampilan putra
  • Ruang serba guna / kesenian
  • Ruang latihan mendengar (ruang training 1 ruang)
  • Ruang audiologi
  • Ruang observas

b. Ruang penunjang

  • Ruang perpustakaan
  • Ruang bimbingan dan penyuluhan
  • Ruang klinik
  • Ruang UKS
  • Ruang audiometer
  • Ruang pameran
  • Ruang kepala sekolah
  • Ruang tata usaha
  • Ruang guru
  • Ruang ibadah
  • Gudang
  • Kamar mandi / WC murid
  • Kamar mandi WC guru
  • Ruang koperasilkantin
  • Ruangtunggu / bangsal pertemuan
  • Bangsal kendaraan
  • Rumah penjaga
  • Ruang latihan keterampilan

c. Asrama

  • Kamaruntukpenjaga
  • Kamartiduruntukanak-anak

d. Perabot Sekolah

Secara garis besar alat-alat yang diperlukan untuk Sekolah Luar Biasa bagian B (tunarungu) hampir sama dengan keperluan anak-anak normal, mereka memerlukan : meja, kursi, almari, papan tulis, petapeta, buku tulis, buku pelajaran, alai olahraga dan lapangan olahraga yang sama dengan anak normal baik ukuran maupun syarat permainannya.

2. Sarana Pendidikan

  • Alat Pendidikan Khusus
  • Audiometer
  • Alat bantu mendengar (hearing aid)
  • Cermin
  • Alat bantu wicara (speech trainer)
  • Alat peraga
  • Alat keterampilan

D. KURIKULUM SEKOLAH LUAR BIASA

Kurikulum yang berlaku di SLB sebagian besar telah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KSTP), akan tetapi karena berbagai kendala, masih ada beberapa SLB yang masih menggunakan kurikulum 1994. Namun demikian, pada tahun pelajaran 2009/2010 diharapkan semua SLB sudah melaksanakan KTSP. Secara profesional secara proporsional kurikulum pada SLTPLB menitikberatkan pada program keterampilan 42% dan. SMALB menitikberatkan pada program keterampilan 62%.

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkT satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.

KTSP terdiri dari kelompok mata pelajaran muatan lokal dan pengembangan diri. Pada satuan pendidikan SDCB dan SMPCB terdapat program khusus, di mana setiap satuan disesuaikan denganjenis kegunaan peserta didik.

KTSP mencakup satuan pendidikan TKLB, SDLB, SLTPLB, dan SMLB memberikan kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengembangkan kompetensinya seoptimal dan setinggi mungkin dan untuk mendapatkan pekerjaan yang berguna agar dapat hidup mandiri di masyarakat dan dapat bersaing di era global. Kurikulum ini memungkinkan siswa dapat belajar atau mempelajari sesuai dengan bakat dan minat serta program keterampilan yang ditawarkan pada SLB, dengan komposisi perbandingan antara teori dan praktik cukup proporsional.

E. MANAJEMEN

    1. Manajemen berbasis Sekolah
      Di era desentralisasi ini seluruh sektor termasuk sektor pendidikan dituntut untuk lebih mandiri “otonomi”antala lainDirektorat jenderal pendidikan dasar dan menengah dalam mengelola pendidikan luar biasa sudah saatnya menyerahkan sebagian kewenangan pengelolaannya kepada daerah dan masyarakat lingkungan sekolah.Salah satu kebijakan yang menyangkut otonomi pendidikan luar biasa, pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan menengah adalah konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Pada awal tahun 2000 Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan menengah telah memperkenalkan dan mensosialisasikan konsep manajemen berbasis sekolah, sebagai konsekuensi logis terhadap diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP No. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonomi.Manajemen berbasis sekolah bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah rnelalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif.
    2. Ketenangan
      • Pendidik
        • Guru kelas
        • Guru bidang studi
        • Guru keterampilan
      • Kependidikan
        • Ahli Bina Wicara
        • Dokter THT
        • Audiometris
        • Psikolog
        • Pekerja sosial
        • Ortho Pedagogik
        • Bimbingan penyuluhan
      • Tenaga Administrasi dan Tenaga lainnya Selain guru pada SLB
        • Tata Usaha Sekolah dan staf
        • Pesuruh sekolah
        • Pejaga Sekolah
        • Tukang Kebun
        • Sopir
      • Tenaga Pengelola Asrama
    3. Administrasi dan Keuangan Sekolah
      Pelaksanaan Administrasi Sekolah di era otonomi ini menggunakan prinsip kemandirian sekolah, dengan menempatkan kewenangan sekolah sebagai sebuah sistem.

Sumber :
www.pkplk-plb.org